Buscar

Page

Tabrakan Pesawat Arab Saudi-Kazakstan di Udara Tahun 1996

BANDARA INDIRA GANDHI
NEW DELHI, INDIA

12 November 1996
349 Orang Meninggal

Pada hari Selasa, tanggal 12 November 1996, sebuah Boeing Arab Saudi 747 lepas landas dari Bandar Udara Indira Gandhi di New Delhi, India. Pesawat ini memuat sebanyak lebih dari tiga ratus penumpang yang pergi ke Arab Saudi untuk berziarah ke tanah suci Islam, atau untuk bekerja di tanah suci.


Pesawat Saudi lepas landas menjelang sore dan memperoleh instruksi dari pengontrol lalu lintas udara agar menambah ketinggian hingga lima belas ribu kaki (4500 m). Pada saat pesawat Arab Saudi ini sedang naik, sebuah pesawat pengangkut Kazakstan yang membawa tiga puluh tujuh penumpang dan awak kapalnya, sedang mendekati bandar udara dan memperoleh instruksi untuk turun hingga  ketinggian empat belas ribu kaki (4260 m).


Standar jarak antarpesawat bagi penerbangan ini memang berlaku secara umum di seluruh dunia: seribu kaki (300 m) vertikal, dan lima mil (8 km) jarak antarpesawat. Pesawat Arab Saudi dan Kazakstan telah berada dalam ketentuan jarak vertikal--nyaris memenuhi ketentuan--tetapi, perlengkapan di Bandar Udara Indira Gandhi tidak mampu memberi informasi kepada si operator bahwa kedua pesawat ini berada dalam jalur lintasan yang sama, dan tepat menuju ke arah satu sama lain. Perlengkapan radar yang digunakan oleh menara telah ketinggalan zaman dan tidak mencakup sebuah transponder yang bisa menyampaikan informasi yang penting ini pada operator.

Seorang pejabat resmi India yang dikutip dalam CNN.com (yang tidak mau disebut namanya) mengatakan, "Lebih baik jika memiliki sebuah transponder. Jika dua pesawat saling mendekat satu sama lain, maka hal ini tidak bisa ditangkap melalui radar tradisional."

Pada saat terjadinya kecelakaan ini, perusahaan Amerika, Raytheon, sedang memasang perlengkapan radar yang baru di Bandar Udara Indira Gandhi, yang menjadikan operator lalu lintas udara mengetahui ketinggian masing-masing pesawat yang saling melintas satu sama lain. Namun demikian, saat terjadinya tabrakan, Amerika Serikat belum mengesahkan penggunaan sistem ini, sehingga seluruh komunikasi dan instruksi bergantung pada perlengkapan yang digunakan pada saat itu.

Setelah tabrakan, pemerintah India mengatakan bahwa meski perlengkapan baru belum berfungsi, tetapi perlengkapan yang ada layak dan berada dalam kondisi baik. Pemerintah India menyalahkan pilot--terutama pilot Uni Soviet--atas kecelakaan ini. Terjadi pembicaraan bahwa pilot Uni Soviat tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik, dan karena bahasa Inggris adalah bahasa resmi lalu lintas udara bagi pilot/operator di seluruh dunia, maka masalah komunikasi semestinya memang turut menyebabkan tragedi ini. Maskapai  penerbangan Kazakstan menanggapi pernyataan ini dengan tegang dan berusaha meyakinkan dunia bahwa pilotnya berkualifikasi penuh dan menguasai bahasa Inggris dengan baik.

Dalam jangka waktu enam bulan dari tahun 1994 hingga tahun 1995, langit India mengalami kasus hampir terjadi tabrakan di udara sebanyak tiga kali. Indian Commercial Pilot's Association menyelidiki kasus ini dan menyatakan bahwa kesalahan terletak pada perlengkapan lalu lintas udara yang telah ketinggalan zaman dan tidak memadai. Di CNN.com, telah dilaporkan bahwa "asosiasi 'pilot' telah merekomendasikan sistem radar berteknologi mutakhir, seperti transponder, perlengkapan komunikasi VHF, dan perlengkapan CAT II, untuk membantu pendaratan. Namun, pemerintah India belum memenuhinya, kata kelompok ini. Menteri Penerbangan Sipil India, C. M. Ibrahim menyangkal bahwa sistem pengendali lalu lintas udara India telah ketinggalan zaman..."

Masalah lain yang juga diangkat adalah fakta bahwa semua pesawat yang dibuat oelh Rusia menggunakan satuan ukuran metrik; pesawat yang dibuat oleh Barat menggunakan satuan ukuran kaki. Hal ini mengabaikan pertanyaan seperti, mengapa tidak ada standar bagi hal yang sama-sama penting, seperti persyaratan penggunaan bahasa Inggris.

Pesawat Arab Saudi dengan 312 penumpangnya baru terbang selama tujuh menit saat tabrakan dengan pesawat pengangkut Kazakstan yang memuat 37 orang.

Penyelidikan telah mengungkap bahwa pilot Arab Saudi selamat dalam tabrakan awal dan entah bagaimana berhasil mengendalikan pesawat yang menukik tajam ini. Terdapat bukti bahwa ia sengaja mengarahkan pesawat ini menjauh dari desa, mendaratkannya di sebuah lapangan kosong. "Ini adalah tindakan yang mulia dari pilot, memastikan supaya para penduduk desa tidak terluka," kata Ram Gupta, seorang pengacara dari Charki Dadri yang menyaksikan kecelakaan ini. 

Reruntuhan pesawat, mayat manusia, muatan, dan barang-barang milik penumpang dari kedua pesawat ini terhampar pada wilayah seluas enam mil (9,5 km).

Pesawat Arab Saudi telah menciptakan parit sepanjang 180 kaki (55 m) dan sedalam 15 kaki(4,5 m) di tanah pertanian India. Terdapat bagian tubuh yang terpotong-potong dan tersebar di seluruh lapangan, di tanah yang belum ditanami, tetapi biasanya digunakan untuk ternak ayam.

Kedua pesawat ini mendarat dengan jarak tujuh mil (11km) satu sama lain, dan tak seorang pun di darat yang terluka pada tabrakan udara terburuk dalam sejarah ini.

Seorang pilot angkatan udara Amerika Serikat yang berusia tiga puluh thaun, yang mengangkut perbekalan bagi kedutaan Amerika Serikat di New Delhi telah menyaksikan tabrakan ini dari ketinggian dua puluh ribu kaki (6096 m). "kami menyaksikan dari sisi kanan pesawat," paparnya kepada Washington Post, "sebuah awan besar menyala dengan kilauan oranye di dalamnya. Intensitas kilauan awan ini menjadi redup, kemudian dua bola api jatuh dan menjadi bola api di daratann."

Setelah tabrakan yang ganas ini, para pemadam kebakaran, polisi, orang-orang dari desa sekitar berlarian menuju kedua lokasi ini, berharap untuk menemukan dan menolong orang-rang yang selamat. Namun, yang mereka temukan adalah puing-puing yang menyala dan potongan-potongan anggota tubuh. 

Tidak ada fasilitas kamar mayat di daerah sekitar, maka mayat-mayat tadi diangkut kembali ke bandar udara dan ditempatkan pada balok-balok es di hanggar, menanti untuk diidentifikasi.

S. S. Sidhu, seorang mantan sekretaris jenderal International Civil Aviation Organization berkata kepada CNN, "secara internasional, 75 persen penyebab kecelakaan udara adlaah kesalahan manusia. Tidak berfungsinya sistem mekanis hanya menyebabkan kecelakaan sebesar 25 persen."

Hal ini tampaknya memang benar dalam kasus bencana tabrakan di udara, meski perlengkapan yang kurang memadai bisa dipastikan turut menyebabkan bencana ini.


Sumber: buku 100 bencana terbesar sepanjang masa, stephen J. Spignesi,

tweet

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...